Sebuah surat dari bumi
October 20, 2007 by elsaloekito
Untuk rembulan, sahabatku,
Wajahmu pucat pasi,
namun cahayamu menerangi malam-malam gelapku.
Pancaran matamu penuh misteri,
membuatku bertanya ada apa di balik benteng kota hatimu?
Adakah kesedihan disana ?
Adakah kebahagiaan ?
kematian ?
atau kehidupan ?
Mungkin di tempatmu semuanya hampa.
Tidak ada waktu,
tidak pula ruang.
Yang ada hanyalah ketiadaan yang tidak pernah ada.
Di dalam kesunyianmu,
kau tidak pernah mengeluh.
Sementara itu,di tempatku,
keluhan manusia membuat suara gaduh.
Kau hanya menatapku,
membiarkanku menangis di pundakmu.
Walau mungkin kau tak sepenuhnya mengerti,
namun ku tahu kau takkan pergi.
Terima kasih sahabat.