Kurang gizi
February 27, 2008 by elsaloekito
Di bawah teriknya matahari,
ibu menanam biji yang bukan padi.
“Namanya jagung”, kata bibi.
Aku ikut ibu ke ladang setiap pagi,
bermain tanah basah tertetes peluh di dahi.
Kata penyiar di televisi, aku kekurangan gizi.
Ayah pergi menyusuri jalan dan sungai.
Musim silih berganti,
namun ayah tak kunjung kembali.
Sehari-hari, perutku hanya terisi nasi dengan terasi.
Kurasa, anak cacing di perutku juga kekurangan gizi.
Kasihan sekali….
Kata paman dan bibi,
musim datang dan pergi.
Setelah kemarau pergi, ‘kan datang musim semi
“Bulan depan kita bisa panen”, kata pak bupati.
“Kita bisa berpesta”, kata tetangga kami.
Kuharap tak ada lagi anak cacing kekurangan gizi.
By: Elsa (Ribbon of Love)