Feed on
Posts
comments

Ketika fajar mengintip malu-malu,

dari daun yang setengah layu,

embun pagi menetes perlahan satu demi satu.

 

Dengan mata sayu,

tanpa ragu walau penuh ambigu,

kutetap hadapi hari yang baru.

 

kuhanya menunduk membisu,

tak sanggup aku menengadah dan berseru.

Dalam hati kubertanya "adakah Kau peduli padaku?"

 

Kumenunggu, dan kuterus menunggu,…

 

Di  balik awan yang tampak kelabu,

di atas sana, tanpa dibatasi oleh waktu,

ternyata Kau tak jemu pulihkanku

The crucifix

The cross of My Saviour,

terrifying you may look,

but it is hope and love that you radiate.

   

Yesterday, I saw the horror of your passion,

how You were betrayed, mocked, and tortured,      

which You never deserved.

If I recall my complaints, I feel ashamed for myself

for none of my sorrows is comparable to yours.

   

But today, I praise Thee for allowing me to see

a spark of light even in the darkest hour of your earthly life.

The more I stare at Your helpless body,

the more I see the glaring rays of compassion and love for a sinner like me.

As you have overcome death, Your LOVE and our HOPE remain endlessly.

 

Let that ray of hope show us the beauty of the ugly experiences in our lives.

Let us learn to love like He loved, forgive like He forgave, and to be faithful like He was until the very end.

 

Easter

Yes, now is the time of the year again,

when we celebrate our Lord’s passion and resurrection.

Maybe the word ‘celebrate’ here is not so appropriate,

since the ‘resurrection’ only follows the ‘passion’.

How about ‘commemorate’ ?

still doesn’t sound right.

It’s the time when we remember and relive

what our Lord went through as a payoff of our wickedness.

   

Not by gold or silver, but by His blood that we may have life.

 

Slowly, I begin to realize

it is the most precious gift I can ever ask for.

I can choose to be indifferent and lose hope.

Or, I can choose to appreciate this gift called LIFE,

it takes time and perseverance, of course,

but the fruit will be a complete happiness.

Which one do you choose?

Kurang gizi

Di bawah teriknya matahari,
ibu menanam biji yang bukan padi.
“Namanya jagung”, kata bibi.

Aku ikut ibu ke ladang setiap pagi,
bermain tanah basah tertetes peluh di dahi.
Kata penyiar di televisi, aku kekurangan gizi.

Ayah pergi menyusuri jalan dan sungai.
Musim silih berganti,
namun ayah tak kunjung kembali.

Sehari-hari, perutku hanya terisi nasi dengan terasi.
Kurasa, anak cacing di perutku juga kekurangan gizi.
Kasihan sekali….

Kata paman dan bibi,
musim datang dan pergi.
Setelah kemarau pergi, ‘kan datang musim semi

“Bulan depan kita bisa panen”, kata pak bupati.
“Kita bisa berpesta”, kata tetangga kami.
Kuharap tak ada lagi anak cacing kekurangan gizi.

By: Elsa (Ribbon of Love)

Untuk sahabatku,

Panggil saja aku rembulanmu,
yang setia menemani
pergumulanmu,
bersama perputaran bumi

   

    Sulit memang tuk memahami
    jeritan hati,
    kegagalan mimpi,…
    Namun sudah kau genggam ketegaran hati
    demi sebuah keutuhan diri.

   

Kebisuanku
bukan tanda tak peduli
melainkan terpesona diriku
atas warna dunia kita yang terus berganti

   

This one is dedicated to my best friend. Sorry I can’t be with you through those hardships..

Jakartaku

Jakartaku,
sesak dengan asap,
bising oleh suara.

 

    Sekilas kupandang

    langit yang perlahan temaram.
    Diiringi suara mesin mengerang,
    hati mulai menggeram.

    Titik titik air hujan
    bergegas memenuhi permukaan   
    kendaraan yang tertahan
    kemacetan yang menakjubkan.

   

Jakartaku, semakin padat dan pengap,
namun tetap kucinta.
Anggaplah ini sebuah uji kesabaran.

Ketika kubuka mata

Ketika kubuka mata pagi itu
kulihat dunia berputar tanpa peduli
apa yang manusia ini alami

sia-sia semua usahaku untuk hentikan waktu
karna ia terus saja berlari
tanpa peduli…

 

    Ketika kubuka mata pagi itu
    ada sebersit kekuatan baru
    membuang bagian hati yang pilu.

    ku dibawanya berlari bersama waktu,
    tidak lebih cepat, tidak pula lebih lambat,
    hanya cukup untuk mengimbanginya.

 

Namun hari ini,
ketika kubuka mata,
kembali ku terperangkap
dalam masa lalu yang terus menghisap.

Biarkan aku pergi,
kumohon,
lepaskan kaki ini dari hisapanmu,
hapuskan keberadaanmu untuk selamanya !!

Pagi itu

Pagi itu
kurasakan hidup ini limpah anugerah.
Tiada risau,
tiada resah.
Kicau burung terdengar merdu,
kokok ayam terdengar megah.

    Sapaan ramah tetangga,
    menembus dinding kulit dan wajah.
    Walau beda warna kita,
    tapi itu bukan masalah.
    Kita berasal dari satu cerita
    dengan sejuta kisah.

 

Pagi itu
kita bersujud bersama,
nyatakan sembah kita
pada Yang MahaKuasa,
nyatakan syukur kita
atas duka dan nestapa.

    Lalu kusadari,
    aku punya Dia,
    yang kau juga punyai,
    yang menjadikan buah hikmah
    dari pohon kekejian.

Ijinkan aku

ijinkan aku meneguk seluruh masa
hentikan waktu
bebaskan jiwa

 

    mereka dengan gelak tawanya
    iringi nyanyian riang yang lugu
    menumbuhkan rindu yang membuta

 

ingin kulepas semua cita
mengejar mimpi dengan malu malu
ijinkan aku dan mereka bersama

rancu

kutahu bukan maksudmu
menoreh luka di hatiku
mungkin kau juga terbelenggu
rasa gundah di kalbu

 

        kutahu tak berhak diriku
        menghakimi kau penipu
        seakan terburu oleh waktu
        kucoba pahami takdir yang rancu

« Newer Posts - Older Posts »